JA

Mengapa harus menggunakan kalender Hijriyah (bag.02)


“Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang, agar kamu dapat mencari karunia dari Rabbmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas” (QS. al-Isra’: 12).
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas telah menjelaskan kepada manusia, bahwa Dialah Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur alam semesta seisinya dengan sempurna dan teratur, termasuk tentang waktu. Manusia dengan akal karunia-Nya telah mampu mengetahui waktu: jam, hari bulan, tahun. dan menyusunnya menjadi organisasi satuan-satuan waktu yang disebut penanggalan atau kalender.

Kalender sebagai hasil budaya manusia berguna dalam penentuan waktu bercocok tanam, berlayar, berburu, bermigrasi, beribadah dan hari-hari besar keagamaan. Ada dua macam tahun kalender di dunia saat ini, yaitu menggunakan perhitungan sistem matahari dan sistem bulan. Pertama, berdasar putaran bumi mengitari matahari. Rotasi bumi pada porosnya sehari dalam 23 jam 56 menit 1 detik atau dibulatkan menjadi 24 jam. Peredaran bumi mengitari matahari dalam setahun 365, 2422 hari. Cara perhitungan waktu edar bumi mengelilingi matahari ini disebut Kalender Syamsiyah, (solar calendar).

Sistem kalender matahari, mulai dikenal dan diawali oleh bangsa Mesir 4236 SM; setahun terdiri atas 12 bulan, tiap bulan 30 hari, ditambah 5 hari raya agama. Bangsa Indian Maya, Olmec dan Aztec di Mexico menggunakannya sejak 580 tahun SM. Kelebihan kalender matahari ketepatannya dengan perubahan musim. Sistem inilah yang dipakai dasar kalender Masehi. Pada masa kerajaan Jawa ada kalender yang disusun oleh Prabu Aji Saka sejak 14 Maret 78 M, disebut Tahun Saka. Sekarang masih dipakai masyarakat Hindu Bali. Sultan Agung Anjokrokusumo (Sri Sultan Muhammad) pada tahun 1555 Saka mengubah perhitungan kelender Saka disesuaikan dengan sistem bulan/qamariyah atau Hijriyah 1043 H bertepatan 1633 M, namun tahunnya tetap 1555 Saka. Putaran tahunnya diubah dengan istilah windu (8 tahun), dengan hitungan setahun qamariyah 354 3/8 hari. Jadi, setiap 8 tahun ada 3 tahun panjang (355 hari) dan 5 tahun pendek (354 hari).

Kedua, berdasar waktu edar bulan mengelilingi bumi, dari bulan sabit ke bulan sabit berikutnya dihitung 1 bulan, rata-rata 29,5 hari. Satu tahun Qamariyah 354 hari 8 jam 48 menit; dihitung dari hadirnya 12 kali bulan sabit. Perhitungan waktu cara ini disebut Kalender Qamariyah, (lunar calendar), sebagai sistem penanggalan paling tua. Keunggulan kalender bulan, yakni tanggalnya mudah diketahui dari perubahan bentuk bulan. Sistem inilah yang dipakai dalam kelender Hijrah atau Hijriyah.

Kalender Masehi/Miladiyah Kalender yang dipakai sekarang berasal dari bangsa Romawi. Pada waktu Julius Caesar menjadi anggota Pontifex Maximus, dibantu Sosigenes, pakar astronomi dan matematik dari Yunani memelajari penanggalan berdasar musim (matahari) di Mesir. Asalnya kalender Romawi dengan sistem bulan kemudian diubah menjadi sistem matahari/syamsiyah, pada tahun 47 SM. Setahun terdiri atas 365 hari lebih 6 jam atau 365 ¼ hari. Setiap 4 tahun dijadikan tahun kabisat, yakni dengan menambah satu hari pada bulan terpendek (Februarius). Bulan Februari yang berumur 28 hari, ditambah satu hari menjadi tanggal 29. Senat Romawi mengabadikan nama Julius sebagai ganti nama bulan ketujuh (sebelumnya Quintilis), sebagai penghormaan atas jasa Julius Caesar. dan disebut kalender Julian.

Selanjutnya, Kaisar Augustus merevisi tahun kabisat sejak 8 SM – 8 M. Nama bulan Sextilis diganti menjadi Augutus, dan umur bulan menjadi 31 hari. Umur bulan ada yang 31 hari, yaitu Januarius, Martius, Maius, Julius, Augustus, October dan December; lainnya berumur 30 hari, kecuali Februari pada tahun biasa 28 hari dan pada tahun kabisat berumur 29. Riwayat Nama 12 Bulan 7 Hari Nama-nama bulan dan hari pada kalender Masehi diambil dari kepercayaan Romawi Kuno.
  • Januari dari nama dewa Janus (dewa bermuka dua, wajahnya menghadap ke muka dan sebelah ke belakang).
  •  Februari dari bahasa Latin Februo, artinya menyucikan jiwa atau upacara membersihkan jiwa bangsa Romawi.
  • Maret dari nama Mars (dewa perang).
  • April dari bahasa Latin Aperto, artinya terbuka, terkembang. Disebut juga Easter, nama dewa musim panas.
  • Mei dari nama Maia yakni putri dewa Atlas.
  • Juni dari nama Juno, salah satu dewa Romawi.
  • Juli dari nama Julius Caesar, atas jasanya menyusun kalender Masehi.
  • Augustus dari nama Kaisar Augustus, yang telah menyempurnakan tahun kabisat.
Selanjutnya September dari bahasa Latin sextilis (tujuh), asal nama bulan ketujuh, berubah menjadi nama bulan kesembilan.. Perubahan nama tersebut menjadi salah kaprah dalam penyebutan bulan selanjutnya. Octo, Novem dan Decem (bahasa Latin, artinya 8,9, 10). Akhirnya diubah menjadi nama bulan kesepuluh, kesebelas dan kedua belas.

Kaisar Constantinus sebagai Kaisar Romawi pertama beragama Kristen, pada tahun 321 M, mengenalkan nama-nama hari dalam 7 hari.
  • Disandarkan pada kepercayaan Kristen bercampur kepercayaan Yahudi dan Romawi Purba.
Sebetulnya pembagian sepekan dalam tujuh hari dilakukan oleh bangsa Assyria (Irak Utara) dan Yahudi di Timur Tengah. Mereka percaya bahwa tujuh benda langit berpengaruh pada kehidupan di bumi. Pengaruh benda langit itu berganti dari jam ke jam dari yang terjauh Saturnus sampai yang terdekat, yakni bulan.
  • Oleh sebab itu hari pertama disebut Saturday (hari bintang Saturnus). Memang, bila kita hitung mundur sampai tahun 1 Masehi, maka tanggal 1 Januari bertepatan pada hari Sabtu. Pengaruh benda langit pada jam kedua Jupiter lalu disusul Mars, Matahari, Venus, Merkurius dan Bulan, Saturnus dan seterusnya berulang.
  • Jam pertama berikutnya dipengaruhi matahari, dalam bahasa Inggris disebut Sunday (hari matahari).
  • Monday (hari bulan),
  • Tuesday dari Tyr, dewa perang.
  • Wednesday dari Woden, dewa suci.
  • Thursday, dari nama dewa Thor (dewa halilintar) dan
  • Friday dari Freya yakni dewa perkawinan. 

Adapun kalender atau tarikh Masehi yang dipakai dewasa ini tahun pertamanya dimulai dari tahun (yang dianggap) kelahiran Isa al-Masih; yang diputuskan oleh Pimpinan gereja Roma, Dyonsius Exiguus pada tahun 525 M. Disebut kalender Masehi artinya kalender yang disusun oleh pemimpin agama Kristen, berdasar keyakinan agama Kristen. Pada masa Paus Gregorius VIII dilakukan koreksi lagi terhadap kalender Julian. Paus dibantu Lilio Ghiraldi alias Aloysius Lilius (ahli astronomi dan fisika) dan Christoper Clavius (ahli matematika).
Mereka menghitung siklus matahari, diketahui secara akurat bahwa satu tahun lamanya 365,242199 hari (365 hari, 5 jam, 48 menit, 46 detik). Padahal, pada kalender Julian 365 ¼ hari (365 hari, 6 jam). Jadi perbandingan keduanya selisih 11 menit. Paus Gregorius memutuskan untuk mengurangi kalender Julian, bahwa bulan Oktober 1582 akan dikurangi 10 hari. Jadi, ketika hari Kamis tertanggal 4 Oktober 1582, maka besoknya (bukan tanggal 5 Oktober) tetapi ditetapkan menjadi tanggal 15 Oktober. Tahun kabisat tidak berdasar rumus angka tahun dibagi empat, tetapi dihitung bila angka tahun habis dibagi 400. Misalnya tahun 1400 bukan tahun kabisat; justru tahun 1600 menjadi tahun kabisat, karena 1600 habis dibagi 400. Penanggalan ini diberi nama Kalender Gregorian.
Awalnya hanya dipakai terbatas di kalangan penganut Katolik Roma. Kemudian diikuti Spanyol, Portugis, Jerman, Belanda dan Perancis. Penganut Protestan menggunakan kalender ini sejak tahun 1700. Ratu Elizabeth I memerintahkan penerbitan kalender di London tahun 1571 oleh Watkin’s & Robertts. Inggris dan koloninya di Amerika baru tahun 1752 mengikuti kalender Gregorian, dengan merevisi 11 hari, bahwa tanggal 2 September esoknya dinyatakan 14 September 1752. George Washington yang lahir 11 Februari 1731 (1742 ?), setelah tahun 1752 hari ulang tahunnya berubah menjadi 22 Februari. Di Amerika berkembang penerbitan almanac, yang memuat himpunan informasi, hari, pecan, bulan, tahun, waktu terbit matahari dan bulan, info astronomi, kewilayahan, data sejarah, ramalan hari baik, buruk dan sebagainya. James, saudara Benyamin Franklin menerbitkan almanac tahun 1728. Tahun 1752 Benyamin Franklin menerbitkan “Poor Richard Almanac”.
Setidaknya 25 tahun karya itu amat laris di pasaran dan menjadi sumber kekayaan serta pengaruh Yayasan Franklin. Perancis menggunakannya sejak 1582, tetapi saat Revolusi Perancis berganti Kalender Revolusi 24 November 1793. Napoleon Bonaparte menggantinya dan kembali menggunakan kelender Gregorian di depan Senat tanggal 9 September 1805. Jepang tahun 1873, dengan angka tahun kalender Jepang yang disebut Syowa. Rusia sejak tahun 1918, kemudian diganti Kalender Revolusi Bolsheviks. Tahun 1940 kembali menggunakan kalender Gregorian. Cina tahun 1912, tetapi tetap menggunakan perhitungan gabungan sistem bulan-matahari, yakni kalender qamariyah dengan memperhitungkan musim. Kalender Cina ada tahun matahari (Yang-lek) dan tahun bulan (Im-lek). Tak heran, bila tahun baru Imlek ditandai hujan, karena memang dihitung berdasar sistem musim tadi. Yunani menggunakannya sejak tahun 1924 dan Turki sejak 1927 semasa Kemal Ataturk. Kalender Julian telah mengalami beberapa perubahan.

Kalender Gregorian dari nama Paus Gregorius dengan Tahun Masehi inilah yang kini menjadi penanggalan internasional berlaku di seluruh dunia. Kalender Indonesia Penerbit Balai Pustaka pernah menerbitkan Almanak Rakyat bertajuk Volk Almanak, berbahasa Melayu/Indonesia dan berbahasa daerah Jawa, Sunda dan lainnya. Pihak swasta juga aktif menerbitkan. Misalnya, Almanak Nasional, tahun 1951. Dalam bahasa Jawa, ada Almanak Maha Dewa, 1951 dan Almanak Dewi Sri, 1971, Penerbit UP, Yogyakarta. Di Banda Aceh diterbitkan Almanak Umum tahun 1959, oleh penerbit Atjeh Press Service. Dalam kalender berbahasa Indonesia penamaan bulan mengikuti Masehi, tetapi nama hari mengikuti urutan angka Arab. Ahad/Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at dan Sabtu. (Ahad, Isnain, Tsulatsa, Arba’ah, Khamsah, Sittah (Jum’ah), dan Sab’ah). Hari keenam mendapat nama khusus dari Allah, agar kaum muslimin menunaikan ibadah berjama’ah (QS Jum’ah: 9).
Penamaan hari Minggu dari bahasa Portugis Dominggo artinya hari Tuhan, yakni berkenaan dengan kepercayaan penganut Kristen bahwa pada hari itu Tuhan Pencipta alam beristirahat dan pada versi lain sebagai hari Yesus bangkit.

Demikian sekilas riwayat kalender Masehi, disusun berdasar kepercayaan Mesir Purba, Romawi Purba, yang dirumuskan (diubah dari sistem bulan ke sistem matahari) oleh Julius Caesar dan pakar astronomi. Kaisar Constantinus memasukkan nama hari yang diserap dari kepercayaan rakyat Mesir Purba dan Romawi Purba, Kristen dan Yahudi. Paus Gregorius telah menyempurnakannya dan dipakai oleh masyarakat dunia. Penggunaan kalender Masehi dibuat untuk kepentingan kepercayaan agama Kristen: tentang hari lahir al-Masih, Paskah, kebangkitan Yesus.

Setiap muslim hendaknya dapat teliti dalam kehidupan sehari-harinya. Bahwa nama bulan pada kelender Romawi, ternyata dipengaruhi kepercayaan masa purba yang tidak sesuai dengan aqidah tauhid. Yang benar dapat diambil, yang batil ditinggalkan.***
sumber
Categories: berita islam


PELENGKAP :
http://www.alfa-omega.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=89&Itemid=101

Bedah Kalender “Masehi”

          Kalender “Masehi” merupakan almanak paling populer di antero bumi, oleh karena itu semua perhitungan penanggalan sejarah dunia, acuannya adalah tahun “0” Masehi. Apa ini ada hubungannya dengan Gelar yang dimiliki oleh Pribadi Agung Yeshua (Yunani=Iesous, Latin=Iesos, Inggris=Jesus)  Padahal asal-muasalnya tidak ada sangkut-paut dengan peristiwa “sejarah hidup” Yeshua Sang Mesias!  Bahkan “ketuhanan” yang termuat didalam nama-nama bulannya  adalah “theologia” kepercayaan Romawi dan Yunani.
          Untuk membedahnya kita bagi dalam 3  Fase sejarah: (I) Kupas Tuntas Kalender Julian dan (II) Masa Transisi serta (III) Kupas Tuntas Kalender Gregorian.

I. Kupas Tuntas Kalender Julian.
          Julius Caesar adalah Penguasa Romawi yang sangat fenomenal, hal itu terbukti nama belakangnya indentik dengan kekuasaan yaitu “Caesar”, sehingga nama tersebut menjadi gelar sebutan “Penguasa Romawi”. Maka untuk melihat dengan runut, kita harus kilas balik ke belakang tentang Kekuasaan (Kekaisaran) Roma.

A. Romulus, pendiri kota Roma; adalah saudara kembar Romus (mati di bunuh). Mereka ini adalah anak Mart si Dewa Perang yang kawin dengan  manusia dan  dibesarkan oleh seekor anjing hutan betina.  Sebagai Penguasa (Kaisar) Roma lalu membuat Kalender dengan cara menjiplak Almanak Mesir apa adanya, dan hanya mengganti nama bulannya saja:
1. Mart (Nama ayahnya sebagai bulan pertama, 30 hari).
2. Aprilis (29 hari).
3.Meius (Dewi Maya, 30 hari).
4. Junius (Juno=Dewi Bulan, 29 hari).
5. Quintilis (Ratu / Penguasa, 30 hari).
6. Sestilis (Ses=Enam, 29 hari).
7. Septembre (Septo=Tujuh, 30 hari).
8. Oktobre (Oktav=Delapan, 29 hari).
9. Novembre (Nova=Sembilan, 30 hari).
10. Decembre (Deca=Sepuluh, 29 hari).
Maka dalam setahun berjumlah 304 hari.

B. Numa, Kaisar ini mengamati kalender Romulus dirasa kurang cocok berkenaan dengan musim, maka dia menambahkan dua masa sebagai bulan ke 11 dan 12, yaitu:
11. Januarius (Janus=Dewa bermuka dua, mulai datangnya musim salju, 30 hari).
12. Februarius (Febro=Dewa Kematian, 29 hari, puncak musim salju dan  tanaman
      Yang bertahan hidup adalah “rumpun” cemara).
Maka dalam setahun berjumlah 355 hari.

C. Julius Caesar (tahun 46 Sebelum “Masehi”?), membuat perombakan frontal, Nama dirinya dimasukkan dalam kelender menggantikan bulan Quintilis (Ratu / Penguasa). Kebesaran Dewa Mart di geser, Dewa Bermuka Dua Si Janus ditaruh pada tempat terhormat, yaitu bulan pertama. Karena dalam setiap lintasan tahun yang memegang kendali adalah Dewa yang bisa melihat masa depan dengan tetap mempertimbangan masa lalu, yaitu Janus. Tahun baru adalah sesuatu yang senantiasa diharap-harap dan dinantikan, sebagai pintu gerbang rahasia nasib,  akhirnya dalam urutan bulan menjadi kaca-balau:
1. Januarius ( 31 hari).
2. Februarius (29 / 30 hari).
3. Mart (30 hari).
4. Aprilis (30 hari).
5. Meius (31 hari).
6. Junius (31 hari).
7. Julius (31 hari).
8. Sestilis ( Ses=Enam, 30 hari).
9. Septembre (Septo=Tujuh, 30 hari).
10. Oktobre (Oktav=Delapan, 30 hari).
11. Novembre (Nova=Sembilan, 31 hari).
12. Decembre (Deca=Sepuluh, 30 hari).
Maka dalam setahun menjadi 364 / 365 hari.

D. Agustus (keponakan Julius Caesar), juga melakukan perubahan tapi tidak begitu berarti: hanya nama dirinya dimasukkan, menggantikan nama bulan Sestilis.

Saripati:
Akhirnya Almanak  ini terkenal dengan Kalender Julian, Kesakralan Julius terhadap Pribadi Janus Dewa Bermuka Dua sangat diutamakan, seperti halnya “GEREJA” dalam Liturgi Ibadah Tutup & Buka Tahun sangat menjunjung tinggi.  Berapapun besarnya uang dipersembahkan, hati-pikiran dan waktu serta tenaga dipertaruhkan, berbagai metode “undian / lotre” disajikan dalam pembagian ayat-ayat berpengharapan dari Kitab Suci.  Lalu apa hubungannya antara Julius Caesar dengan Yeshua Sang Mesias? Atau apa kaitannya antara Dewa Janus Yang Bermuka Dua anak Dewa Apolo (Cucu Mahadewa Jupiter / Zeus) dengan “Gereja”? itulah konspirasi satan.

II. Masa Transisi.
          Pada saat kekristenan menjadi populer di wilayah kekuasaan Romawi, atas Perintah Justinian Sang Penguasa, Rahib (Pendeta) Dionysius Exiguus disuruh me”nera” kapan Mesias lahir, dan tanggal tersebut akan dinyatakan sebagai tahun “0” sebagai perhitungan awal kalender Sang Mesias.  Maka saat itulah dinyatakan sebagai tahun 526 Masehi, karena waktu itu berdasarkan perhitungan Sang Rahib adalah tahun 753 Julian.
          Kalender produk Rahib Dionysius terlajur dipublikasikan, ternyata ada kesalahan dalam perhitungan, lalu ada yang menghitung ulang “bahwa pada tahun tersebut dalam kalender Julian adalah tahun 749”. Akhirnya perhitungan yang dipercaya sampai sekarang adalah Yeshua Sang Mesias lahir pada Tahun 4 Sebelum Masehi, bukan tahun “0”.

III. Kupas Tuntas Kalender Gregorius.
          Tahun 1582 Masehi, Paus Gregorius membuat “gebragan” yang spekatuler, Format Kalender Julian (Julius Caesar) yang diabadikan oleh Rahib Dionysius, perhitungan jumlah hari dalam setiap bulan diperbaharui berdasarkan “Ilmu Alam.” Bulan Ke 10 yaitu: hari kamis tanggal 4 Oktober lalu besoknya tetap hari jum’at, tapi tanggalnya 15 Oktober. Jadi dalam sejarah tidak pernah ada tanggal 5-14 Oktober 1582.  (The Standart Dictionary, cetakan 1907”, Unversal Calendar for every year of the Christian era”.
          Sehingga menjadi seperti berikut:
1. Januari (31 hari).
2. Februari (biasa 28 hari / kabisat 29 hari).
3. Mart (31 hari).
4. April (30 hari).
5. Mei (31 hari).
6. Juni (30 hari).
7. Juli (31 hari).
8. Agustus (31 hari).
9. September (30 hari).
10. Oktober (31 hari).
11. November (30 hari).
12. Desember (31 hari).
Kalender inilah yang dipakai sampai sekarang, oleh karena itu biasa disebut Kalender Gregorian karena produk Paus Gregorius, ada yang menyebut kalender Masehi karena produk rohaniwan “gereja”  yang identik dengan kristiani atau mesianik, atau mengacu pada arah tanggal kelahirannya Sang Mesias.

Saripati :
          Lalu bagaimana dengan muatan “Theologis” dalam Almanak tersebut? Sangat sarat dengan sejarah Dewa-Dewi dari Romawi maupun Yunani.  Satan juga menyajikan konsep “ketuhanan” kepercayaan Romawi dan Yunani dalam “keimanan” kristiani, salah satu contoh yang paling mendasar yaitu :
          *Mahadewa Jupiter / Zeus kegemarannya adalah kawin, baik dengan para dewi maupun dengan manusia. Antara lain kawin dengan Dewi Pertanian / Peradaban yaitu Si Seres (Demeter), akhirnya lahirlah si Proserpina (Dewi Tumbuh-tumbuhan).  Dewi Proserpina menikah dengan Dewa Pluto (si Penguasa Kerajaan “Hades”), Pengawalnya bernama bernama Serberus yaitu Anjing berkepala tiga.
          *Bagaimana dengan “Kerajaan Hades” dalam kekristenan yang disajikan oleh para theolog yang berakar Yunani? Dengan lantang mengajarkan bahwa “hades” adalah kerajaan dunia orang mati, yang ditaklukan oleh Yeshua Sang Mesias melalui kematian dan kebangkitannya.
          *Bahkan  Qorintyah Alef Pasal 15 Ayat 55 menjadi berbunyi :”hades, dimanakah sengatmu?”. (Dogmatika Masakini, DrG.C.van NIFTRIK – Dr.B.J.BOLAND, PT BPK GUNUNG MULIA - 1990, halaman 274).

4  dan sesungguhnya mereka akan memalingkan pendengarannya dari kebenaran dan mereka akan dibelokkan kepada dongeng-dongeng.
5  Namun engkau, tenangkanlah pikiranmu dalam segala sesuatu, jalanilah penderitaan, lakukanlah pekerjaan pemberitaan injil, tunaikanlah tugas pelayananmu!
[Timtheous Beth, Pasal 4]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar