JA

Tampilkan postingan dengan label jamhijriyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jamhijriyah. Tampilkan semua postingan

Daptar Harga Jam Hijriyah


Harga Rp 60.000


Rp: 70.000


Rp . 45.000


Rp 80.000


Rp. 100000

semua harga belum termasuk ongkos kirim 
pembelian lebih dari 10 pcs discon 25 %

bisa dipesan dengan menghubungi  no Hp. 08811369834
Atau datang langsung 
ke Majelis Tadabbur Al-Qur'an
Agen Resmi jam hijriyah Alamat:
Masjid Nurul Muhajirin Blok F2 
Lt Dasar pasar Tanah Abang 
Jakarta - Pusat 





Bab 'Dua KONSEPSI KA’BAH UNIVERSAL TIME (KUT)

PARADIGMA KETERKECOHAN
Umat Islam sebenarnya telah memiliki system tata¬ waktu sendiri, yakni sistem almanak qamariyah¬ syamsiyah (lunar & solar system),yang ternyata tiadak terlalu banyak dipahami oleh Ummat Islam sendiri. Bagi Ummat Islam, sistem almanak qarnariyah-syamsiyah dapat dijelaskan sebagai berikut:
• Tata waktu "jam-jaman" dan "harian" didasarkan pada perputaran bumi pada sumbunya atau rotasi bumi, yang memerlukan waktu selama ±24 jam per hari (almanac harian syamsiyah atau daily solar time). Sistern almanak harian syamsiyah ini sekaligus dikaitkan dengan perputaran bumi mengelilingi matahari, yang memerlukan waktu 365 hari atau tepatnya 365,242217 hari atau 365 hari 05 jam 8 menit 46 detik (almanak almanakr tahunan syamsiyah atau manual solar time yang digunakan dalam system almanak Masehi atau Gregrorian Calendar).
• Tata-waktu "bulanan" dan "tahunan" didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi (almanak bulanan syamsiyah). Satu bulan. (month) menurut sistem almanak syamsiyah adalah waktu yang diperlukan oleh bulan untuk mengitari bumi, yang tampak dari bumi sebagai satu lingkaran penuh; yang lamanya 29,530579 hari (29 hari 12 jam 44 menit 03 detik). Adapun satu tahun menurut sistem almanak qamariyah mencakup 354 hari, yang terbagi dalam 12 bulan, dengan jumlah hari berselang-seling 30 dan 29 harti per bulan.
Dalam sistem almanak qamariyah-syamsiyah ini, "awal hari" dimulai pada saat "petang." Dasar ilmiahnya adalah "awal bulan" menurut sistem qamariyah (yang merupakan "awal hari pertama" dalam bulan qamariyah yang bersangkutan) ditetapkan berdasarkan hisab ataupun ru'yat terhadap hilal (munculnya "bulan sabit" atau "bulan baru" yang dalam bahasa Inggris disebut visible crescent). Ru'yat tersebut secara ideal hanya dapat dilakukan pada wilayah tropis di saat "petang" ketika bulan dan matahari nampak dari bumi di ufuk barat dalam posisi berkonjungsi (ijtima').
Bagi Ummat Islam, sistem almanak inilah yang digunakan sebagai dasar bagi perhitungan Tahun Hijriyah, yang ditetapkan mulai berlakunya oleh Kholifah Umar bin Khoththob ra. pada tahun 637 M.
Bahasan lebih terinci mengenai hal tersebut di muka akan disajikan secara khusus pada Bab Tiga.
Pertanyaan mengenai "Bukankah kita mendahului Rasul¬-Nya?" sebagaimana yang muncul pada bagian terakhir Bab Satu sebenarnya timbul bukan karena Ummat Islam di seluruh dunia menggunakan pula sistem tata-waktu syamsiyah "murni," yang digunakan sebagai dasar bagi sistem almanak Gregorian atau almanak Masehi sejak 4 Oktober 1582. Mengapa? Sebab, Islam pun mengakui keabsahan & keterterapan (validity & applicability) sistem almanak syamsiyah tersebut, yang membagi waktu satu tahun syamsiyah menjadi 365 hari. Anda ingin buktinya? Silakan ikuti uraian berikut ini.
Kata "yaum" (yang berarti "hari") dalam bentuk tunggal dapat Anda jumpai tepat sebanyak 365 hari di dalam ayat¬-ayat Al-Qur'an, yang mengandung makna bahwa "satu tahun" syamsiyah yang terdiri atas "365 hari" adalah haq (benar), dan Allah sensdiri yang membenarkannya, bukan hasil rekayasa atau perhitungan matematika-astronomis belaka, bukan pula sekedar hasil perhitungan oleh Julius caesar (pemrakarsa Kalender Julian), dan bukan pula oleh paus Gregorius (pemrakarsa Kalender Gregorian)!
Selanjutnya, kata "sa'ah" (yang berarti "waktu" atau jam) dalam semua bentuk dan gramatikanya, seluruhnya dapat Anda temui pada 48 tempat. Namun, khusus bagi kata "sa'ah" yang didahului dengan bukan didahului hurup "isim" ataupun oleh "fill" (kata kerja), hanya terdapat pada 24 tempat dalam 20 ayat. Inilah ayat-ayatnya: Al-A’raf[7]:187, At-Taubah [91]:117, Yunus [10]:45, Al-Hijr [15]:85, Al-Kahfi [18]:21, Maryam [19]:75, Thaha [20]:15, Al-Anbiya' [21].49, Al-Mu'rninun [23]:7, Al-Furgan [25]:11 (ada dua kata), Al-A.hza.b [33]:23 & 63, Al-Mu `min [40]:40, Asy-Syura [42]:17 & 18. Al-Zukhruf [43]:43, Ad-Dukhan [44]:32, AI-Jasiyah. 45:32, Al-Ahqaf [46]:35, Muhammad [47]:18, Al-Qamar [54]:46 (ada dua kata), dan An-Nazi’at [79]:42.
Uraian tersebut di atas mengandung makna, bahwa "satu hari" yang terbagi dalam "24 jam" adalah haq, dan Allah¬ lah yang menetapkannya, bukan kesepakatan para ahli matematika ataupun ahli astronomi seperti yang diakui selama ini!
Adapun pernyataan "12 bulan" dalam "satu tahun" (baik tahun syamsiyah maupun khususnya tahun qamariyah) dapat ada jumpai secara eksplisit dalam sebuah ayat Al- Qur’an At-Taubah [9]:36. Atau, jika Anda ikhlas bersusah payah membolak-balik lembar-lembar kitab Al-Qur’an hitunglah kata "syahr" (yang berarti "bulan" dalam pengertian"month," bukan "moon"). Kalau Anda teliti pasti Anda akan menjumpai kata "syahr" tersebut sebanyak 12 kali! Dari kenyataan-kenyataan ini, Allah
Dengan haq prerogatif-Nya yang mutlak menetapkan bahwa satu tahun terbagi dalam 12 bulan! Sekali lagi, ini adalah kebenaran dadi Allah, bukan hasil kreasi atau pun rekayasa manusia
Bagaimana halnya dengan "satu minggu" (week) yang 'terdiriatas tujuh hari?" Apakah ini juga hasil karya-cipta munusia? Jawabannya bukan!, melainkan juga ketetapan Allah yang maha memiliki, yang dapat pula Anda temui di dalam Al-Qur'an. Kata "sab'u" yang berkaitan dengan kata "samawat," baik sebelumnya maupun sesudahnya, disebutkan sebanyak tujuh kali dalam tujuh ayat, yakni dalam surat: Al-Baqarah [2]:29, Al-Isra' [17]:44, Al-Mu'minun [23]:84, Fush-shilat [41]:12, At-Thalaq [65]:12, Al-Mulk [67]:3, dan Nuh (71]:15.
Fakta ini, selain mengandung rnakna bahwa langit - menurut ketetapan Allah di dalam Al-Qur'an - terdiri atas "tujuh lapis," juga mengandung arti bahwa bilangan tujuh merupakan satu kesatuan "tujuh hari dalam seminggu."
Itulah sebagian kecil rahasia yang terkandung di dalarn ayat-ayat Al-Qur'an mengenai perhitungan-perhitungan yang berkaitan dengan falaqiyah. (astronomi), khususnya mengenai "waktu." Sekali lagi perlu penulis tegaskan, bahwa semua hal tersebut bukanlah hasil karya-cipta, hasil rekayasa, hasil perhitungan matematis-astronomis, ataupun hasil kesepakatan manusia. Semuanya adalah ketetapan Rabbul’aalamin.
Perlu pula penulis tegaskan di sini mengenai perbedaan pengertian "hari" menurut sistem almanak qamariyah (almanak Hijriyah) dengan "hari" menurut sistem almanak syamsiyah "murni" (sistem GMT dan almanak Gregorian atau Masehi). "Awal hari" (atau pukul 00:00:00) dalam sistem GMT atau sistem almanak Masehi jatuh tepat pada "tengah malam." Penetapan "awal hari" yang tepat pada "tengah malam" atau pukul 00:00:00 waktu setempat tidak dianut oleh sistem almanak qamariyah atau Sistem Almanak Islam (Hijriyah). Mengapa? Sebab, selain tidak terdapat dasar hukum menurut nash Al-Qur'an maupun As-Sunnah, penetapan "awal hari" tepat pada "tengah malam" itu pun sulit ditemukan dasar ilmiahnya - melainkan hanya sekedar "kesepakatan manusia" belaka. Lalu, bagaimana dengan "awal hari" bagi Sistem Almanak Islam? Silakan cermati Bab tiga.
Marilah kita kembali lagi ke pokok bahasan Sub-Bab ini, yakni "paradigma keterkecohan" yang menjadi pangkal permasalahan dan kerancuan jadual ibadah Ummat Islam yang bertempat-kedudukan di sebelah timur Masjidil-Haram di sebelah barat "Garis Tanggal Internasional" (di antara BT - 180° meridian Greenwich) termasuk Indonesia wilayah tercinta (antara 95° BT - 141° BT meridian grenwich)
Dimanakah letak pangkal permasalahnnya sehingga Ummat Islam yang berkedudukan di antara Masjidil-Haram 'Garis Tanggal Internasional" tersebut selalu melaksanakan ibadah rnandhahnya "mendahului" ibadah serupa yang dilaksanakan di Masjidil- Haram? Atau, seandainya Rasulullah saw. masih ada bersama-sama ummatnya, bukankah pelaksanaan ibadah Ummat Islam
berkedudukan di antara Masjidil-Haram dan "Garis tanggal Internasional" tersebut selalu "mendahului" ibadah yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw. di Tanah Arab Masjid Nabawi -.Madinah ataupun di Masjidil-Haram -Mekkah)? Jawabannya mudah! Sebab, Ummat Islam di seluruh dunia baik disadari maupun tidak, baik diakui ataupun tidak dalam melaksanakan ibadah-ibadah mahdhah –nya telah "terjerat", "terkecoh" dan "tertipu" oleh tata-waktu GMT, sejak 4 Oktober 1582 atau sejak tahun 1885, atau sekurang-kurangnya sebelum lahirnya "Protocol of Zion" (yang penulis lebih suka menyebutnya sebagai "Twenty Four Satanic of Jews")
Dalam syistemm GMT tersebut, "hari" di seluruh permukaan bumi Allah "dianggap dan disepakati" berpangkal dari garis tanggal Internasional" atau meridian 180° Greenwich. Padahal penetapan sistem GMT ini sama sekali tidak ada d'asar ilmiah, bahkan dasar ilmiah yang paling lemahpun tidak ada! Adanya meridian 180° Grenwich inipun telah membelah bola bumi menjadi dua bagian yaitu dari meridian 0° Greenwich ke arah barat Hingga 180° Greenwich yang disebut Bujur Barat (BB) dan dari meridian 0° Greenwich ke arah timur hingga 180° grenwich yang sebut Bujur Timurv(BT). Pembelahan bola bumi menjadi “belahan barat" dan "belahan timur" ini tidak ada dasar ilmiah sama sekali, melainkan hanya sekedar kesepakatan manusia yang tidak jelas landasan ilmiah ataupun landasan filsafatnya. Lalu mengapa kesepakatan yang tidak memiliki dasar ilmiah ataup'un dasar filsafat ini harus ada dan harus disepakati Alasan utamanya adalah: nenek moyang Than Charles F. Dowd, sebelum diangkut dengan kapal "My Flower¬ untuk dibuang ke daratan Amerika, teryata berasal dari. Kota Greenwich, sebuah kota kecil di dekat London, Inggris. Kebetulan sekali, di kota tersebut terdapat sebuah observatorium yang tergolong paling tua di dunia. Maka. kota Greenwich inilah yang ditetapkan sebagai titik meridian 0°. Jadi, dasar "ilmiah"-nya teryata adalah "tanah leluhur" dan "faktor kebetulan" Jadi, tanpa disadari, nepotisme dan paternalisrne juga telah lama terjadi di bidang astronomi dan geografi Seingat penulis, Tuan Francis Bacon, yang dianggap sebagai pakar filsafat ilmu, tidak memasukkan "tanah leluhur" dan "faktor kebetulan" tersebut sebagai "kriteria ke-ilmiah-an." Faktor "kebetulan" memang diakui selalu terlibat dalam proses invention dan atau discovery, nam-un tidaldah tepat apabila dipakai alasan untuk menjustifikasi persoalan yang sedang kita bahas ini. Dan, penulis pun menjadi tidak habis pikir, mengapa para ilmuwan para pendekar ilmu-pengetahuan yang konon senantiasa mengumandangkan dan menghormati perlunya integritas ke-"ilmiahan” dalam kehidupan pribadinya dan menerapkan "metodologi ilmiah" dalam setiap kegiatan. profesinya, termasuk ilmuwan dan cendekiawan muslim masa kini - justru tanpa sadar telah bertaqlid buta selama berabad-abad pada fakta yang sama sekali tidak mempunyai dasar ilmiah yang shohih tersebut?
Lalu, mengapa "awal hari" atau pukul 00:00:00 - yang disepakati jatuh pada "tengah malam" tidak dimulai dari Greenwich? Jawabannya adalah, bahwa para pemrakarsa sistem GMT tidak mau dan tidak rela apabila "tanah leluhur" dikaitkan. dengan "kegelapan tengah malam," karena tidak sesuai dengan jargon yang mereka anut: "The Sun Never Sets in the British Empire" ("Matahari TakPernah Terbenam bagi Kerajaan britania Raya"). Oleh karenanya, mereka lebih suka membiarkan "kegelapan" tersebut membayangi kawasan Pasifik (di sekitar meridian 180° Greenwich), karena di kawasan Pasifik inilah mereka - Inggris dan negara-negara Eropa lainnya - ketika itu sedang ”membenamkan" negara-negara kepulauan besar dan kecill - termasuk Indonesia - sebagai koloni-koloninya yang dihisap habis-habisan sumber daya alamnya dan sumber-daya posisi
strategisnya! Apakah ini dapat pula disebut sebagai "dasar ilmiah"? Jawabannya terserah Anda.
Demikian pula halnya dengan pembelahan bola bumi dua wilayah meridian, yakni wilayah Bujur Barat wilayah Bujur Timur, juga sama sekali sulit ditemukan dasar ilmiahnya.
Bagi Anda yang pernah terbang bolak-balik melintasiTanggal Internasional", maka umur anda akan berloncatan maju-mundur, sehingga jadual ulang tahun anda pun menjadi kacau balau. Namun, justeru atas dasar pembelahan bola bumi" menjadi "belahan barat" dan belahan timur" inilah yang menjadi titik pangkal dari perseteruan" antara "Orang & Budaya Barat" versus "Orang & Budaya Timur" Padahal, sebenarnya tak perlu terjadi begitu.
Waspadalah, wahai ikhwan dan akhwat khususnya para Ulama dan cendekiawan muslim - terhadap tipuan-tipuan mereka Melibatkan diri kita ke dalam tipu-daya mereka, walaupun tanpa kita sadari, ternyata dapat membawa dampak dan konsekuensi yang fundamental terhadap Ummat Islam. Berikut inilah antara lain dampaknya, yang telah disinggung pada
Bab Satu
Seluruh Ummat Islam yang bertempat-kedudukan di sebelah timur Masjidil -Haram dan di sebelah barat "Garis Tanggal Internasional" (termasuk Indonesia) akan selalu mengalami "waktu harian" (yakni "hari" dan "jam" dalam tanggal yang bersangkutan) lebih awal daripada yang dialami oleh Ummat Islam di Masjidil -Haram dan sekitarnya.
Misalnya, untuk satu hari Jum'at yang sama. pelaksanaan Shalat Jum'at Ummat Islam di Jakarta selalu ±4 jam "lebih awal" atau "mendahului" pelaksanaan Shalat Jum'at di Masjid iI-Haram. Demikian pula halnya, Shalat Ied l 'Ad-ha 10 Zulhijjah 1416 di Jakarta, yang ternyata dilaksanakan ±4 jam "lebih awal" atau "mendahului" pelaksanaan Shalat Ied l'Ad-ha 10 Zulhijjah 1416 di Masjid iI-Haram.
Seandainya Rasululläh saw. masih bersama-sama ummatnya melaksanakan Shalat led l'Ad-ha di Tanah Arab pada tanggal 10 Zulhijjah 1416 tersebut, bukankah Ummat Islam di Jakarta tersebut berarti "mendahului" apa yang dikerjakan oleh Rasul-Nya? Demikian pula ibadah sunnah puasa Arafah-nya, dan juga ibadah penyembelihan hewan qurbannya. Semua yang dilaksanakan oleh Ummat Islam di Jakarta selalu "mendahului" ibadah serupa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. di Tanah Arab sana. Atas dasar hadits-hadits yang meriwayatkan Asbab n-Nuzul QS AI-Hujurat [49]:1 di awal buku kecil ini, bukankah ibadah¬ibadah kita tersebut sebenarnya "batal" demi hukum? Dan harus "diulang" pula! (Silakan periksa lagi riwayat tentang Asbab n-Nuzul QS. AI-Hujurat [49]:1 dalam Sub Bab "Beberapa Riwayat" di Bab Satu)
Atau, mungkin dapat juga kita ber-hujjah (berkilah) lain. Oleh karena saat ini Rasulullah saw. sudah tidak lagi bersama-sama ummatnya, maka kita lalu menganggap tidak ada orang lain yang berani menegor, membatalkan, dan menyuruh mengulang ibadah-ibadah Ummat Islam yang dilaksanakan "mendahului" ibadah-ibadah serupa di Masjid il-Haram. Kata orang zaman kini: "Cu'ek sajalah Nabi Muhammad kan nggak melihatnya Naudzubillaahi min dzalik!
Kita wajib berlindung diri ke dalam pelukan dan haribaan Allah swt., semoga kita tidak tergolong orang-orang yang ber-hujjah. seperti tersebut di atas; dan semoga kita tidak termasuk pula ke dalam golongan orang-orang yang ber¬hujjah dengan kalimat "zamannya sudah berubah." Sebaliknya, semoga kita tetap ada dalam petunjuk dan bimbingan-Nya dan senantiasa mengamalkan "pesan terakhir" Rasulullah saw. yang disampaikan pada kesempatan Haji Wada' (Hujja-tul Wada'): ".........Ay-yuhanas,dengar dan perhatikanlah, kata-kataku ini, sebab saya tdidak tahu apakah sesudah ini saya diberi keserapatan untuk berada di tengah-tengah, kalian, tempat ini, danndaIam keadaan seperti ini..........
"Perhatikanlah kata-kataku ini,wahai saudara-saudaraku,dan pahamkanlah saya sudah menyampaikan ini. Saya tinggalkan untukmu dua hal,yang kalau kamu keberpegang teguh kepadanya, pasti kamu tidak akan. tersesat buat selama-lamanya, itulah Kitabullah (Al-Que’an dan Sunnah Rasulullah.....
itulah satu fragmen dari khutbah pamungkas yang panjang - yang digemakan oleh Rasulullah saw. Dari sebuah bukit di Padang Arafah, di depan para (jama'ah Haji Wad a ') sebanyak. 140.000 orang,
hari Jum'at tanggal 9 Zulhijjah, yang bertepatan pada tanggal 8 Maret 632 Masehi. Khutbah tersebut di kumandangkan beliau dengan tetap duduk di atas unta ke sayangannya, "Al-Qaswah." Hari itu juga, Allah swt. Menurunkan wahyu terakhir, yakni Ayat 3 Surat Al-Ma'idah sebgai berikut:
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir Telah putus asa untuk (mengalahkan) aturanmu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu aturanmu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi aturan bagimu. Maka barang siapa terpaksa Karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
www.dithrah1429.blogspot.com
www.fitrahagency1429.blogspot.com

AL BRAJ AL-BAIT Tower "Calon" MMT

AL BRAJ AL-BAIT  
Tower "Calon" MMT Insha Allah,



 The Abraj Al-Bait Towers atau juga dikenal sebagai The Mecca Royal Clock Tower / Jam Mekkah Hotel Tower, adalah sebuah kompleks pembangunan di Mekkah, Arab Saudi yg digarap oleh Saudi Binladin Group. Setelah selesai, menara tertinggi di kompleks tersebut akan berdiri sebagai bangunan tertinggi di Arab Saudi, sekaligus juga Merupakan Hotel tertinggi dan terbesar di dunia, dengan ketinggian 601 m.
Bangunan ini akan memiliki struktur luas terbesar di dunia yaitu sekitar 1.500.000 m2. Ini sama seperti Terminal 3 di Bandar Udara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab yang juga sedang dibangun. Bangunan ini juga akan menjadi Hotel Tertinggi yang melampaui Emirates Park Towers di Dubai sebagai Hotel tertinggi di dunia sekarang. Seluruh proyek ini diperkirakan akan selesai pada musim gugur 2011. Situs kompleks tersebut terletak di seberang jalan ke selatan dari pintu masuk ke Masjid al Haram, Baitullah, situs yang merupakan tempat paling suci Umat Islam.
Abraj Al-Bait Towers akan memiliki ruang Shalat besar yang mampu menampung hampir sepuluh Ribu orang, ini sebagai upaya Untuk menampung jamaah yang mengunjungi Ka'bah, . Menara tertinggi di kompleks tersebut akan dijadikan sebuah Hotel berbintang tujuh yang akan menampung lima juta orang pengunjung yang berwisata ke Mekah setiap tahun untuk haji.
Selain itu, Abraj Al-Bait Towers akan memiliki pusat perbelanjaan bertingkat empat dan tempat parkir yang mampu menampung lebih dari seribu kendaraan. Selain itu Residential towers  yang diperuntukan sebagai Apartement Permanent ini mempunya 2 Heli Pad dan Konfrence Center untuk mengakomodasi Bisnis Traveler. Secara keseluruhan, menara ini akan menampung sekitar 100. 000 orang.
Tower ini akan memasang 4 Jam di setiap sisi menara hotel dengan ukuran 43 × 43 m diketinggian 450 m. Ini merupakan Jam terbesar di dunia. Atap jam terletak 530 m di atas tanah, ini merupakan jam yang paling tinggi di dunia. Selain itu diatas jam itu akan dibangun menara setinggi 71 m yang menjadikan tinggi gedung ini mencapai 601 m - Setelaj selesai nanti gedung ini akan menjadi bangunan Tertinggi Kedua Di dunia setelah Burj Al Khalifa Dubai yang telah diresmikan Januari Lalu.
Berikut adalah Data 7 Tower yang berdiri Megah di samping Masjidil Haram itu,.


    * Hotel Tower (601 m)
    * Hajar Towet (260 m),
    * ZamZam Tower (260 m)
    * Maqam Tower (250 m),
    * Qibla Tower (250 m),
    * Marwah Tower (240 m)
    * Safa Tower (240 m)




AL BRAJ AL-BAIT  
Tower "Calon" MMT Insha Allah,
http://en.wikipedia.org/wiki/Abraj_Al_Bait_Towers

Makkah Sebagai Pusat Bumi

Makkah Sebagai Pusat Bumi! (bag.02)


Makkah tempat di mana umat Islam melaksanakan haji itu terbukti sebagai tempat yang pertama diciptakan. Telah menjadi kenyataan ilmiah bahwa bola bumi ini pada mulanya tenggelam di dalam air (samudera yang sangat luas). Kemudian gunung api di dasar samudera ini meletus dengan keras dan mengirimkan lava dan magma dalam jumlah besar yang membentuk ‘bukit’. Dan bukit ini adalah tempat Allah memerintahkan untuk menjadikannya lantai dari Ka’bah (kiblat). Batu basal Makkah dibuktikan oleh suatu studi ilmiah sebagai batu paling purba di bumi. Jika demikian, ini berarti bahwa Allah terus-menerus memperluas dataran dari tempat ini. Jadi, ini adalah tempat yang paling tua di dunia.

Adakah hadits yang nabawi yang menunjukkan fakta yang mengejutkan ini?
Jawaban adalah ya. Nabi bersabda, ‘Ka’bah itu adalah sesistim tanah di atas air, dari tempat itu bumi ini diperluas.’ Dan ini didukung oleh fakta tersebut.
Menjadi tempat yang pertama diciptakan itu menambah sisi spiritual tempat tersebut. Juga, yang mengatakan nabi yang tempat di dalam dahulu kala dari waktu menyelam di dalam air dan siapa yang mengatakan kepada dia bahwa Ka’bah adalah pemenang pertama yang untuk dibangun atas potongan dari ini tempat seperti yang didukung oleh studi dari basalt mengayun-ayun di Makkah?

Makkah Pusat Bumi
Prof. Hussain Kamel menemukan suatu fakta mengejutkan bahwa Makkah adalah pusat bumi. Pada mulanya ia meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia.Untuk tujuan ini, ia menarik garis-garis pada peta, dan sesudah itu ia mengamati dengan seksama posisi ketujuh benua terhadap Makkah dan jarak masing-masing. Ia memulai untuk menggambar garis-garis sejajar hanya untuk memudahkan proyeksi garis bujur dan garis lintang.
Setelah dua tahun dari pekerjaan yang sulit dan berat itu, ia terbantu oleh program-program komputer untuk menentukan jarak-jarak yang benar dan variasi-variasi yang berbeda, serta banyak hal lainnya. Ia kagum dengan apa yang ditemukan, bahwa Makkah merupakan pusat bumi.
Ia menyadari kemungkinan menggambar suatu lingkaran dengan Makkah sebagai titik pusatnya, dan garis luar lingkaran itu adalah benua-benuanya. Dan pada waktu yang sama, ia bergerak bersamaan dengan keliling luar benua-benua tersebut. (Majalah al-Arabiyyah, edisi 237, Agustus 1978).
Gambar-gambar Satelit, yang muncul kemudian pada tahun 90-an, menekankan hasil yang sama ketika studi-studi lebih lanjut mengarah kepada topografi lapisan-lapisan bumi dan geografi waktu daratan itu diciptakan.

Telah menjadi teori yang mapan secara ilmiah bahwa lempengan-lempengan bumi terbentuk selama usia geologi yang panjang, bergerak secara teratur di sekitar lempengan Arab. Lempengan-lempengan ini terus menerus memusat ke arah itu seolah-olah menunjuk ke Makkah.
Studi ilmiah ini dilaksanakan untuk tujuan yang berbeda, bukan dimaksud untuk membuktikan bahwa Makkah adalah pusat dari bumi. Bagaimanapun, studi ini diterbitkan di dalam banyak majalah sain di Barat.

Allah berfirman di dalam al-Qur’an al-Karim sebagai berikut:
"Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur'an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya.."(asy-Syura: 7)
"Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia.........."(al maidah : 97)

Kata ‘Ummul Qura’ berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya menunjukkan Makkah adalah pusat bagi kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada di sekelilingnya. Lebih dari itu, kata ummu (ibu) mempunyai arti yang penting di dalam kultur Islam.
Sebagaimana seorang ibu adalah sumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber dari semua negeri lain, sebagaimana dijelaskan pada awal kajian ini. Selain itu, kata ‘ibu’ memberi Makkah keunggulan di atas semua kota lain

Makkah atau Greenwich
Berdasarkan pertimbangan yang seksama bahwa Makkah berada tengah-tengah bumi sebagaimana yang dikuatkan oleh studi-studi dan gambar-gambar geologi yang dihasilkan satelit, maka benar-benar diyakini bahwa Kota Suci Makkah, bukan Greenwich, yang seharusnya dijadikan rujukan waktu dunia. Hal ini akan mengakhiri kontroversi lama yang dimulai empat dekade yang lalu.
Ada banyak argumentasi ilmiah untuk membuktikan bahwa Makkah merupakan wilayah nol bujur sangkar yang melalui kota suci tersebut, dan ia tidak melewati Greenwich di Inggris. GMT dipaksakan pada dunia ketika mayoritas negeri di dunia berada di bawah jajahan Inggris. Jika waktu Makkah yang diterapkan, maka mudah bagi setiap orang untuk mengetahui waktu shalat.

Makkah adalah Pusat dari lapisan-lapisan langit
Ada beberapa ayat dan hadits nabawi yang menyiratkan fakta ini. Allah berfirman, 

‘Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.’ (ar-Rahman:33)

Kata aqthar adalah bentuk jamak dari kata ‘qutr’ yang berarti diameter, dan ia mengacu pada langit dan bumi yang mempunyai banyak diameter.
Dari ayat ini dan dari beberapa hadits dapat dipahami bahwa diameter lapisan-lapisan langit itu di atas diameter bumi (tujuh lempengan bumi). Jika Makkah berada di tengah-tengah bumi, maka itu berarti bahwa Makkah juga berada di tengah-tengah lapisan-lapisan langit.
Selain itu ada hadits yang mengatakan bahwa Masjidil Haram di Makkah, tempat Ka‘bah berada itu ada di tengah-tengah tujuh lapisan langit dan tujuh bumi (maksudnya tujuh lapisan pembentuk bumi) .
Nabi bersabda, ‘Wahai orang-orang Makkah, wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kalian berada di bawah pertengahan langit.’
 Thawaf di Sekitar Makkah
Dalam Islam, ketika seseorang thawaf di sekitar Ka’bah, maka ia memulai dari Hajar Aswad, dan gerakannya harus berlawanan dengan arah jarum jam. Hal itu adalah penting mengingat segala sesuatu di alam semesta dari atom hingga galaksi itu bergerak berlawanan dengan arah jarum jam.
Elektron-elektron di dalam atom mengelilingi nukleus secara berlawanan dengan jarum jam. Di dalam tubuh, sitoplasma mengelilingi nukleus suatu sel berlawanan dengan arah jarum jam. Molekul-molekul protein-protein terbentuk dari kiri ke kanan berlawanan dengan arah jarum jam. Darah memulai gerakannya dari kiri ke kanan berlawanan dengan arah jarum jam. Di dalam kandungan para ibu, telur mengelilingi diri sendiri berlawanan dengan arah jarum jam. Sperma ketika mencapai indung telur mengelilingi diri sendiri berlawanan dengan arah jarum jam. Peredaran darah manusia mulai gerakan berlawanan dengan arah jarum jamnya. Perputaran bumi pada porosnya dan di sekeliling matahari secara berlawanan dengan arah jarum jam.
Perputaran matahari pada porosnya berlawanan dengan arah jarum jam. Matahari dengan semua sistimnya mengelilingi suatu titik tertentu di dalam galaksi berlawanan dengan arah jarum jam. Galaksi juga berputar pada porosnya berlawanan dengan arah jarum jam.

Oleh Dr. Mohamad Daudah
www.eramuslim.com

sekapur sirih

Bismilahirrahmanirrahim

Segala puji hanya untuk Allah Rabb semesta alam yang Maha Pangasih lagi
MahaPenerima Taubat dan yang menguasai hari Akhir. Maha Suci Engkau Aku bersaksi tiada Ilah selain Allah dan Aku bersaksi Muhamaad itu hamba dan Rasul-Nya
Allah berperman dalam Qs.Al Ashr : yang terjemahannya sebagai berikut
1.  Demi masa.
2.  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3.  Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

kita bermohon semoga Dia menunjukan kita kepada jalan lurus seperti para Nabi,shidiqqin. syuhada dan shalihin. Qs. Anisa (4;69 yang terjemahannya sebagai berikut

69.  Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.

[314]  ialah: orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7.

Sudah banyak para cendikiawan muslim yang mempunyai kepedulian terhadap ummat dan sudah banyak pula yang memikirkan Islamisasi sains dan teknologi. karenateknologi yang begitu pesat tanpa dikembalikan kepada ajaran-Nya (Allah) tidak akan membawa kesejahtrean hidup manusia malah akan menjadi mala petaka yang dahsyat.

Pada catatan ini saya akan mengupas atau menulis yang saya ambil dari buku SOLAR TIME (JAM MATAHARI) karya Haris Abu ukasyah Santri Al Furkon sindangjaya kalimantan yang di tulis di Bogor pada 20 Muharram 1415H
Pada tulisan ini saya mengajak untuk memikirkan kembali apakah teknologi jam yang kita pakai sudah memenuhi syarat keislaman atau belum karena kalau kita kembali kepada nilai-nilai Islam Insya Allah jam mekanik atau elektronik yang kita pakai akan menjadi pelengkap yang baik dalam melaksakan ibadah kita sehari-hari ( yang bukan hanya ibadah mahdhoh saja)

Kepada Allah juga kita memohon keridloan-Nya, semoga catatan ini bermanfaat bagi kita semua dan catatan ini untuk melengkapi gagasan Ka’bah mean Time yang konon menaranya sudah di bangun di Saudi Arabia yang diresmikan pada 1 Ramadhan 1431H
 Dan tentunya masih banyak kekurangannya kritik dan saran kami harapkan. Seandainya yang saya tulis ini benar tentu datangnya dari Alla, dan seandainya salah kesalahan dari diri saya sebagai hamba yang dhaif yang senantiasa mengharapkan ampunan-Nya.
Wasalam
Marjuni Aryo Bilaga
Produsen jam hijriyah
www.facebook.com/mecameantime

Jam Hijriyah


Oleh E Darmawan Abdullah
PADA tanggal 1 Rama­dhan 1431 H dunia Islam dan juga seluruh umat manusia di dunia di hen­takkan oleh sebuah be­rita tentang telah terpa­sangnya sebuah jam ter­besar di dunia di Abraj al-bait Tower, di kota Makkah al-Mukaromah, Saudi Arabia.
Mengapa? Sebab konseptor hitu­ngan waktu yang kita sebut, "Jam" adalah umat Islam, pada zaman kekha­lifahan dahulu. Dan itu artinya, umat Islamlah yang lebih dulu melengkapi konsepsi penanggalan Hijriyah dengan satuan waktu jam. Sehingga semes­tinya kita juga yang menggagas koor­dinat waktu Makkah Mean Time (MMT) bagi jam yang berlaku di seluruh dunia." Bukan GMT.
Padahal, benarkah bahwa di dunia ini tidak ada lagi jam selain konsepsi jam konvensional? Benarkah jam kon­vensional itu adalah jam yang terbaik? Serta benarkah bahwa konsepsi jam Masehi itu sudah Allah- SWT sahkan? Ternyata dari ke tiga pertanyaan itu, jawabannya ialah tidak benar semua. Sebab sebenarnya ada lagi konsepsi jam selain jam konvensional, yaitu konsĂ©psi jam Islam. Jam yang terbalik itu bukanlah jam konvensional, melainkan jam Islam. Dan juga jam kon­vensional itu konsepsi jamnya tidak dianggap sah konsepsinya oleh Allah SWT. disebabkan konsepsi jamnya berlawanan dengan pola waktu yang telah Allah rancang.
Fakta bahwa kita memiliki jam Islam ini, tentu sangat mengagetkan. Hampir tidak percaya. Mengapa? Semua itu akibat dari mata rantai jam Islam yang dulunya ada tapi kemudian terputus. Jam Islam yang dahulu sudah dirancang para ilmuwan dan ulama­ulama kita pada zaman kekhalifahan telah diputuskan mata rantainya oleh arus deras kekuatan peradaban Ma­sehi. Sehingga yang kita terima kemu­dian ialah konsepsi jam Masehi yang notabene merupakan pelengkap wak­tu bagi penanggalan umat Nasrani.
Adakah jam Islam itu? Belasan tahun yang lalu, entah mengapa penulis meyakini bahwa kita sebagai umat Islam pasti punya konsepsi jam Islam. Hal itu didasari dari pernyataan Allah SWT di dalam surat al-Maidah (5) ayat 3. Bahwa Allah telah menyempurna kan ajaran dienul Islam ini.
Surat al-Maidah ayat 3, bahwa Islam itu sudah Allah SWT sempur­nakan ajarannya. Dan itu berarti aspek apa pun pasti Allah telah ajarkan semua. Termasuk dalam hal ini adalah

konsepsi waktu dalam satuan "jam".
Sebab jika Allah tidak mengajarkan tentang konsepsi jam, hanya sebatas penanggalan Islamnya saja, maka al- Qur'an kita berarti tidaklah lengkap. Karena satuan waktu di dalam ruang dan waktu di bumi kita ini tidak hanya sampai pada hitungan harian saja ada satuan waktu yang lebih kecil dari itu, yaitu "satuan Jam, menit dan detik".
Pada mulanya, ketika pengetahuan kami tentang jam masih amat sedikit , namun kami mulai mencoba mema­parkannya pada orang lain atau khu­susnya para ustadz dan para cendi­kiawan Muslim, beliau semuanya membantah, tanpa kami bisa jawab bantahaannya.
Subhanallah, ternyata konsepsi jam Islam itu sungguh jauh lebih baik dibanding jam konvensional. Tentang  jawaban bantahan, pertama, alat hi­tung penanggalan Islam itu sesung­guhnya tidak hanya menggunakan bu­lan saja, tapi juga matahari, sehingga sistemnya adalah sistem syamsiyah komariyah. Matahari untuk meng­hitung periode harian, bulan untuk periode bulanan.
Kedua, perihal dalil jam, ternyata dalil tentang jam itu ada, namun kita tidak sadar. Ketiga, bahwa jam itu murni teknologi. Tekhnologi pada dasarnya memang murni, tapi dia tidak lagi murni atau netral lagi jika sudah dimasuki konsepsi perhitungan waktu sebuah penanggalan, dan otomatis dia akan memiliki nama sesuai konsepsi penanggalan yang memasukinya.
Ketiga, adapun perihal Rasulullah saw tidak pernah memakai jam! Hal itu dikarenakan alat penghitung waktu jamnya yang pada saat itu belum ada.
   Kalau Rasulullah saw hidupnya pada zaman sekarang, tentulah Rasulullah saw. menggunakan jam juga.
Keempat, terakhir, tentang jam Islam akan mengacaukan kebiasaan yang sudah ada, sungguh kita harus beristighfar jika memiliki pemikiran seperti itu. Sebab apakah ia sebuah konsepsi yang datang dari Islam itu akan mengacaukan, dan akan menda­tangkan suatu keburukan? Tidak mung­kin!. Bahkan sebaliknya, kita harus meyakini bahwa pastilah akan banyak bermanfaat.
Keberadaan jam Islam akan men­jadi bukti bahwa Islam telah Allah tu­runkan dengan sempurna, serta ke­unggulan konsepsi jam Islam itu sendiri adalah bukti dari kebenaran sabda Rasulullah saw bahwa Islam itu tinggi, tidak ada yang melebihi ketinggiannya. Di kutip dari majalah sabili edisi Oktober 2010

STOCK TERSEDIA



JAM HIJRIYAH
PRODUKSI : FITRAH 1429 H

UK.BESAR 
DIAMETER DALAM 18 CM
BAHAN PLASTIK
MESIN NAGOYA STANDARD
HARGA Rp. 50.000,-


DAPATKAN HARGA KHUSUS UNTUK PEMBELIAN 10 UNIT JAM HIJRIYAH 

BAGAIMANA CARA MENETAPKAN SISTEM TATA-WAKTU ISLAM MENGGUNAKAN JAM HIJRIYAH/ISLAMIC CLOCK/SOLAR TIME?

APAKAH JAM HIJRIYAH  ITU?

Jam Hijriyah  merupakan Jam Matahari (Solar Clock Time), yakni suatu alat mekanik elektronis yang mewakili dan menjelaskan posisi matahari dalam gerak semu mengelilingi bumi dari timur ke barat dengan jarum jam sebagai tonggak petunjuk yang bergerak (khronometer).
Jam Hijriyah  merupakan wujud mekanik (simulasi mekanis) dari kronologi (sistem tata-waktu) Islam yang menetapkan saat terbenam matahari sebagai pangkal atau awal hari (jam 00.00.00).
Sejarahnya:
Jam Matahari Purba –yang sudah digunakan manusia sejak ribuan tahun di Mesir kuno dan hanya menggunakan tonggak penunjuk dan angka-angka– juga digunakan orang-orang muslim awal sebagai patokan dalam penentuan waktu-waktu ibadah mahdhah. Namun baru sebatas digunakan pada siang hari karena ketergantungannya pada sinar matahari langsung.

APA PERBEDAAN ANTARA JAM HIJRIYAH  DENGAN JAM STANDAR MASEHI (JAM BIASA)?

Ada 2 (dua) perbedaan prinsip yang sangat signifikan antara Jam Hijriyah  dengan Jam Masehi yaitu:
  1. Angka 12 (dua belas) pada Jam Hijriyah  berada di bawah, bukan di atas seperti pada Jam Masehi.
  2. Arah putar jarum Jam Hijriyah  berlawanan dengan arah putar jarum Jam Masehi. Biasanya arah putar Jam Masehi disebut Clockwise, dan arah putar Jam Hijriyah  disebut Counter Clockwise.
Tidak ada perbedaan prinsip lain yang pokok selain kedua perbedaan di atas. Kalau toh ada hanyalah sebagai variasi misalnya penulisan angka dengan menggunakan angka Hindi (atau angka Arab dalam bahasa kita).

Skema Jam Standar Masehi dan Jam Hijriyah


MENGAPA ANGKA 12 PADA JAM HIJRIYAH  BERADA DI BAWAH?

Pangkal hari atau awal hari (jam 00.00.00) menurut ajaran Islam adalah saat tenggelamnya matahari, bukan tengah malam sebagaimana menurut waktu Masehi (Jam Biasa). Di saat matahari tenggelam di arah barat itulah sebenarnya awal waktu umat Islam bagi hari tertentu. Sehingga apabila suatu sore jarum Jam Hijriyah  menunjukkan angka 12 (jam 00.00.00) yang berada di bawah, berarti menjelaskan posisi matahari yang sedang tenggelam ke bawah yang mengawali hari tertentu. Begitu pula kemudian 12 jam setelah itu, pada saat matahari terbit (jam 12.00), posisi matahari juga berada di bawah (arah timur) kemudian naik sedikit demi sedikit sampai puncaknya di titik kulminasi 6 (enam) jam kemudian (jam 06.00 siang atau 18.00) kemudian turun kembali menuju tenggelamnya, dst. Jadi jelasnya, posisi jarum Jam Hijriyah  merupakan petunjuk (simulasi) posisi matahari pada saat itu.

Contohnya:
Jarum pendek Jam Hijriyah  menunjukkan angka Arab 11 dan jarum panjang pada angka Arab 12 pada suatu sore, berarti posisi matahari pada saat itu 1 (satu) jam menjelang tenggelamnya (jam 00.00.00). Begitu pula misalnya pada suatu pagi menjelang siang, jarum pendek Jam Hijriyah  menunjukkan angka Arab di antara 2 (dua) dan 3 (tiga) dan jarum panjang pada angka Arab 6 (enam), berarti posisi matahari pada saat itu 2 ½ (dua setengah) jam setelah terbitnya, dst.
Skema jam Hijriyah

MENGAPA ARAH PUTAR JARUM JAM HIJRIYAH  BERLAWANAN DENGAN ARAH PUTAR JAM MASEHI (JAM BIASA)?
Sesuai dengan fithrah Allah dan sunnatullah, setiap benda yang berputar di alam raya kauniyah ini, berputar menyerupai arah perputaran ibadah Thawaf di Ka’bah (pusat putaran berada di sebelah kiri subyek yang berputar mengelilinginya). Sehingga arah putar jarum pada Jam Hijriyah  juga dibuat sesuai dengan ketetapan Allah (sunnatullah), yaitu seperti perputaran ibadah Thawaf tersebut.
Berbagai perputaran di alam yang menyerupai perputaran Thawaf tersebut antara lain:
-          Arah perputaran planet-planet mengelilingi matahari dan bulan atau satelit satelit alam mengelilingi planet-palnet (makrokosmos).
-          Arah perputaran elektron mengelilingi inti atom (mikrokosmos).
-          Arah putar pesawat luar angkasa atau roket saat keluar dan masuk atmosfir bumi.
-          Arah medan magnet dalam Hukum Faraday
-          Arah putaran dalam olahraga lari, balap sepeda, tonk stan, dsb.
-          Arah busur derajat, kuadran, dsb

Skema perputaran sesuai Thawaf


BAGAIMANA CARA MUDAH  (KIAT-KIAT) MEMAHAMI JAM HIJRIYAH?
Pada disain Jam Hijriyah , sengaja tetap kami sertakan angka-angka Romawi sesuai letaknya seperti pada Jam Masehi. Sehingga dalam satu alat tersebut sebenarnya terdapat 2 (dua) sistem jam/waktu yaitu Jam Hijriyah  dan Jam Masehi. Hal ini untuk memudahkan kita mengkonvesi langsung antara waktu Jam Hijriyah  dan Jam Masehi yang mempunyai selisih tepat 6 (enam) jam.
KIAT MUDAH MENGKONVERSI KE JAM MASEHI: Misalnya kita ingin tahu jam berapa saat tertentu menurut waktu Masehi pada Jam Hijriyah , maka kita harus melihat jarum pendek menunjukkan angka Romawi tertentu sedangkan jarum panjang kita anggap menunjuk ke angka Arab sebagai keterangan kelebihan atau kekurangan menitnya.
Contoh:
Jarum pendek Jam Hijriyah  menunjukkan angka Romawi 7 (tujuh) lebih sedikit dan jarum panjang menunjukkan angka Romawi 9 (sembilan), berarti itu menunjukkan jam 07.15 menurut Masehi, karena angka Romawi 9 (sembilan) di mana posisi jarum panjang berada berimpitan dengan angka Arab 3 (tiga) yang berarti lebih 15 menit. (Ingat: Angka 12 berada di bawah dan putaran berlawanan arah dengan Jam Masehi).

APA MANFAAT JAM HIJRIYAH?

  1. Jam Hijriyah , karena menggunakan sistem perputaran semu matahari mengelilingi bumi, menjadi sangat signifikan bagi umat Islam di seluruh dunia karena berhubungan erat dengan penetapan waktu-waktu ibadah mahdhah yang berpatokan pada posisi matahari di suatu tempat di muka bumi. Misalnya: Puasa diawali dari fajar sebelum terbit matahari, waktu shalat Dhuhur adalah saat lewat tengah hari, shalat Ashar setelah tergelincir matahari, buka puasa tepat saat tenggelam matahari, shalat maghrib setelah tenggelam matahari, dsb. Dengan melihat jarum jam pada Jam Hijriyah, kita bisa menerka kira-kira posisi matahari pada saat itu.
  2. Karena hari menurut Islam diawali pada saat tenggelam matahari, maka terdapat selisih 6 (enam) jam dengan penetapan hari menurut Masehi yang diawali pada saat tengah malam. Konsekuensinya akan terjadi perbedaan yang signifikan dalam menetapkan hari dalam sepekan (Senin sampai Ahad/Minggu) antara kalender Hijriyah  dan kalender Masehi. Selama ini, karena tidak hati-hati sering terjadi kerancuan dalam penetapan hari oleh umat Islam antara Hijriyah  dan Masehi, misalnya saat menentukan aqiqah hari ke-7 seorang anak, saat menentukan 40 hari, 100 hari atau 1000 hari seseorang yang telah meninggal, dsb. Misalnya seorang anak lahir pada hari Kamis jam 08.00 malam atau jam 20.00 menurut waktu Masehi, maka menurut waktu Hijriyah anak tersebut lahir pada hari Jum’at jam 02.00 (karena baru 2 jam setelah matahari tenggelam). Yang sering terjadi selama ini anak tersebut dianggap lahir hari Jum’at jam 08.00 malam atau 20.00 padahal ia baru lahir 2 (dua) jam yang lalu dan jam 08.00 malam atau 20.00 tersebut belum masuk hari Jum’at menurut Masehi.

MENGAPA JAM HIJRIYAH  PERLU DIBUDAYAKAN BAGI UMAT ISLAM?

Dengan menggunakan Jam Hijriyah , Insya Allah kita akan selalu mengingat bahwa Islam mempunyai aturan perhitungan waktu tersendiri yang sangat erat hubungannya dengan berbagai waktu ibadah umat Islam misalnya shalat fardhu, sahur dan buka puasa, penentuan aqiqah seorang anak, dsb. Hal ini berbeda dengan perhitungan waktu Masehi yang tidak ada kaitan langsung dengan waktu-waktu ibadah umat Islam.

Tabel perbandingan sistem tata-waktu Masehi dan Hijriyah

TAHUN MASEHI
TAHUN HIJRIYAH
Kelahiran Isa Al masih Hijrah Nabi SAW
BULAN MASEHI
BULAN HIJRIYAH
Januari Februari Muharram Syafar
Maret April Rabiul Ula Rabiuts Tsani
Mei Juni Jumadil Ula Jumadits Tsani
Juli Agustus Rajab Sya’ban
September Oktober Ramadhan Syawal
Nopember Desember Dzulqa’dah Dzulhijjah
HARI MASEHI
HARI ISLAM
Minggu Senin Ahad Senin
Selasa Rabu Selasa Rabu
Kamis Jum’at Kamis Jum’at
Sabtu
Sabtu
PERGANTIAN HARI:
PERGANTIAN HARI:
TENGAH MALAM
TENGGELAM MATAHARI
?
Pergantian Hari menurut Kalender Masehi
Setiap bulan ada hilal sebagai isyarat datangnya bulan baru
Pergantian Hari menurut Kalender Islam

PRODUKSI FITRAH 1429 H

HARGA PER UNIT
  • UK. KECIL BULAT Rp. 40.000,-
  • UK. BESAR BULAT Rp. 50.000,- 
 STOCK TERSEDIA : 
  • UK. KECIL DIAMETER LUAR 20 CM
  • BAHAN PLASTIK
  • BENTUK BULAT DAPAT DIJADIKAN JAM MEJA
  • MESIN STANDARD NAGOYA 
  • TERSEDIA 2  DESIGN BAGROUND JAM


STOCK KOSONG





"DAPATKAN HARGA KHUSUS UNTUK PEMESANAN 10 UNIT"
 PEMESANAN HUBUNGI : 08811505760
                                             (021) 97874626 - 4722 
                                             (021)97874722